Bos Dorna Soroti Musim Lorenzo Di Ducati

CEO Dorna Sport, Carmelo Ezpeleta menyorot tahun perdana Jorge Lorenzo bersama Ducati. Menurutnya, musim ini Lorenzo kurang kompetitif.

Kendati begitu, Ezpeleta yakin Lorenzo bisa menjadi penantang serius di MotoGP 2018. Apalagi di GP Aragon akhir pekan lalu, X-Fuera berhasil meraih podium.

“Saya yakin Jorge (Lorenzo) akan memperjuangkan gelar juara dunia tahun depan. Tak ada keraguan, di internal Ducati semua orang menyukai Lorenzo,” kata Ezpeleta.

lorenzo

Meski cuma posisi tiga namun podium itu merupakan yang kedua musim ini. Lorenzo disebut sudah mulai beradaptasi bersama Ducati.

“Lorenzo membutuhkan waktu untuk memahami karakter Ducati. Dia melakukannya (adaptasi -red) selangkah demi selangkah,” lanjut Ezpeleta.

Lorenzo kini berada di posisi ketujuh dengan koleksi 106 poin dari 14 balapan yang telah dia lewati. Sementara rekan satu timnya, Andrea Dovizioso berada di tempat kedua, bertarung dengan Marc Marquez untuk menjadi juara dunia.

Jika Rossi Pensiun, MotoGP Harapkan Ada Pahlawan Baru

Sejauh ini MotoGP memunculkan nama-nama pembalap yang berbakat. Talenta mereka luar biasa meski tak ada sosok sekaliber Valentino Rossi.

Bos Dorna, Carmelo Ezpeleta mengungkapkan bahwa Rossi adalah pembalap yang kharismatik. Ia pun membandingkan dengan Marc Marquez dan Jorge Lorenzo.

Menurut Ezpeleta, aura bintang yang dimiliki oleh Marquez dan Lorenzo tak se-kharismatik Valentino Rossi. Menurutnya ‘The Doctor’ memiliki aura seorang bintang seperti Mick Doohan.

“Saat ini memang ada Marquez dan Lorenzo, tapi keduanya tidak sekharismatik Valentino,” kata Ezpeleta.

Jika Rossi Pensiun, MotoGP Harapkan Ada Pahlawan Baru

Ezpeleta sempat khawatir jika MotoGP ditinggalkan oleh Rossi. Kendati demikian, Rossi pasti bisa bertahan di MotoGP meski bukan sebagai pembalap.

“MotoGP terus berkembang, dan dalam sejarah kita sudah pernah mengalami saat seperti ini, yakni saat Mick Doohan pensiun. Tapi kemudian datanglah Valentino. Jadi dengan kata lain, jika Valentino pensiun kita mengharapkan pahlawan baru,” tegasnya.

Ducati Belum Kehilangan Gelar Juara

Bos Ducati, Luigi Dall’Igna, masih yakin Andrea Dovizioso bisa mengejar perolehan angka Marc Marquez. Gelar juara dunia MotoGP 2017 pun masih bisa diraih.

Dovizioso kini tertinggal 16 poin dari Marquez yang kokoh di puncak klasemen. Dovizioso kehilangan posisi puncak karena hanya finis ketujuh di Aragon. Sementara si Baby Alien juara.

“Kami tidak kehilangan kans dalam pacuan juara dunia. Sejak dari sini hingga akhir musim, saya yakin kami masih bisa berbicara banyak,” kata Dall’Igna.

Ducati Belum Kehilangan Gelar Juara

Dall’Igna sudah menduga Dovizioso bakal kesulitan di MotoGP Aragon. Menurut dia, Aragon memang trek yang sulit untuk Desmosedici.

“Melihat catatan waktu pada Jumat, kami sudah menduga kondisinya bakal sangat sulit bagi kami, dibanding rider lain. Setelah balapan kami bicara, dia masih sangat termotivasi. Ini tujuan dia dan kami akan berjuang sampai akhir,” tegasnya.

Meski masih yakin ada kans, Dall’Igna menganggap Marc Marquez merupakan lawan yang sulit dikalahkan.

“Marc adalah pembalap yang berani mengambil risiko dan selalu meraih hasil terbaik pada setiap balapan. Menghadapi pembalap seperti itu sangat sulit, kami telah melihatnya. Selain itu, dia juga memiliki motor yang luar biasa,” tukasnya.

Tak Ada Yang Bisa Bendung Marquez

Pembalap Movistar Yamaha Valentino Rossi memprediksi akan sangat sulit bagi siapa pun menahan Marc Marquez jadi juara dunia MotoGP 2017. Terlebih melihat penampilannya di GP Aragon akhir pekan lalu.

Atas kemenangan itu, Marquez pun unggul 16 poin dari Andrea Dovizioso sebagai pesaing terdekatnya. Rossi yakin kemenangan Marquez di Aragon membuatnya bisa memimpin kejuaraan.

“Saya pikir untuk kejuaraan sekarang bagi lawan sangat sulit. Kemenangan Aragon adalah langkah yang sangat besar,” kata Rossi.

Tak Ada Yang Bisa Bendung Marquez

The Doctor mengira, Repsol Honda telah menemukan banyak hal ketika melakukan tes di Brno saat liburan musim panas. Satu tangan Marquez pun kini sudah menggenggam tropi.

“Sepertinya setelah Brno, tes mereka berhasil meningkatkan performanya dengan pesat,” tuturnya.

Lima kemenangan Marquez musim ini pun sangat diperhatikan oleh Rossi, terutama pada putaran kedua.

“Marquez menang di Brno, kalah balapan di putaran terakhir di Austria. Di Silverstone, dia sangat tangguh tapi meledakkan mesin motornya, tapi dia menang di Misano dan menang di sini,” tukasnya.

Dovizioso Butuh Stoner Untuk Jadi Raja MotoGP 2017

Ducati telah mematangkan persiapan untuk merebut gelar juara dunia MotoGP 2017. Andrea Dovizioso pun dianggap butuh sosok Casey Stoner.

Salah satu skenario yang dilakukan adalah menurunkan Stoner dan Michele Pirro untuk menjalani pengujian motor Desmocedici GP17 di Sirkuit Ricardo Tormo, Valencia. Selama tiga hari mereka bakal menggeber motor untuk dipakai Dovizioso.

Itu merupakan penampilan ketiga Stoner sejak kembali ke pabrikan Italia tersebut. Sebelumnya Stoner tampil dalam pengujian pramusim di Sepang dan Barcelona.

Dovizioso Butuh Stoner Untuk Jadi Raja MotoGP 2017

Bos Ducati Gigi Dall’Igna juga telah mengambil sikap seperti itu. Menurutnya data yang dikumpulkan bakal dipakai untuk serangan terakhir yang akan dilakukan Dovizioso.

“Ini adalah situasi yang perlu diperhatikan. Untuk pabrikan Jepang pergi ke Eropa jelas tidak mungkin dan tidak ekonomis untuk melakukan tes semacam ini,” kata Dall’Igna.

Itu juga merupakan strategi untuk memanfaatkan peluang juara. Sebab Valencia akan dijadikan sebagai arena pertempuran terakhir bagi ketiga kandidat juara yakni Marc Marquez, Andrea Dovizioso, dan Maverick Vinales.

Vinales Merindukan Rossi

Maverick Vinales, sudah merindukan kehadiran rekan setimnya, Valentino Rossi. Vinales berharap The Doctor segera pulih dan kembali ke lintasan agar bisa membandingkan data.

“Jika Valentino Rossi kembali maka akan menjadi hal yang bagus untuk semua orang. Tertuama untuk saya karena saya bisa membandingkan data dengan miliknya. Dia mengenal motor dengan baik dan kami bisa bersama-sama,” kata Vinales.

Rossi melewatkan balapan MotoGP San Marino akhir pekan lalu. Ia masih menjalani pemulihan cedera patah kaki.

Vinales Merindukan Rossi

Rossi juga diprediksi belum bisa kembali ke lintasan pada MotoGP Aragon pada 24 September 2017. Movistar Yamaha sudah menunjuk Michael van der Mark sebagai pebalap pengganti Rossi.

Absen di beberapa seri MotoGP 2017 tentu sangat merugikan Rossi. Kesempatannya untuk menjadi juara dunia MotoGP 2017 bisa dibilang telah tertutup.

Valentino Rossi kini masih bercokol di posisi empat klasemen sementara MotoGP 2017 dengan raihan 157 poin. Ia terpaut 42 angka dari pemuncak klasemen, Marc Marquez, dengan sisa lima seri balapan.

Persaingan Ketat Dovizioso dan Marquez

Andrea Dovizioso membidik kemenangan MotoGP Aragon pada 24 September 2017. Padahal sejauh ini, Marc Marquez yang difavoritkan untuk menjadi juara di sana.

Dovizioso tengah bersaing ketat dengan Marquez dalam perburuan gelar juara dunia. Kedua rider sama-sama mengoleksi 199 poin dengan lima balapan tersisa.

“Di Aragon kami harus keluar untuk menang. Itu yang harus menjadi tujuan kami. Jika kami tak berpikir demikian, bagaimana kami berharap bisa mengalahkan seseorang seperti Marc?” kata Dovizioso.

Persaingan Ketat Dovizioso dan Marquez

Rider Ducati tersebut mengaku harus bekerja lebih keras. Kendati Marquez lebih diunggulkan, namun ia tak mau kalah untuk kali ini.

“Meskipun Aragon adalah salah satu trek favorit Marquez. Itu membuat perbedaan, tapi kami tak bisa mengatakan kami tak ingin mencoba menang di sana,” tuturnya.

Apalagi melihat balapan di GP San Marino akhir pekan lalu. Dovizioso tak diunggulkan, namun ia bisa finis di posisi tiga.

“Secara teori kami harusnya tak kompetitif di Misano, tapi kami bisa tampil cepat. Jadi sulit membuat prediksi,” tutur Dovizioso.

Johann Zarco Berlari Sampai Garis Finis

Pembalap Yamaha Tech 3, Johann Zarco menjadi sosok yang paling menyedot perhatian selain Marc Marquez. Zarco harus bernasib sial sesaat sebelum mencapai garis finis.

Pembalap asal Prancis tersebut mengalami gangguan mesin beberapa meter dari garis finis. Tiba-tiba YZR M-1 yang dipakainya pun mati.

Zarco tetap tak menyerah dan memilih menyelesaikan balapan dengan mendorong motor hingga garis finis. Situasi tersebut membuat Zarco yang awalnya bisa finis di urutan ketujuh terpaksa rela melorot ke posisi 15 dan hanya mendapat satu poin.

Johann Zarco Berlari Sampai Garis Finis

Juara dunia Moto2 tersebut terlihat kesal dengan keadaan itu. Entah apa yang terjadi di balik helmnya, namun ia memperlihatkan gestur tak nyaman.

Sebelum balapan, ia mengaku pesimis dengan motor yang dipakainya. Apalagi, ia juga pernah mengalami crash saat free pratice.

“Saya sempat mengalami kecelakaan karena terlalu memaksa motor. Jadi kami harus bekerja keras dan menemukan solusi untuk menjadi lebih cepat,” ujar Zarco.

Ia kini menjadi debutan paling bersinar pada MotoGP 2017. Zarco berada di posisi enam klasemen sementara MotoGP 2017 dengan raihan 110 poin.

What a heroic effort from Zarco as he pushes his bike over the line!

He still finished in the points  pic.twitter.com/05mFvPO0F6

— MotoGP™🇸🇲 (@MotoGP) September 10, 2017

Lorenzo Butuh Desmosedici Yang Berbeda

Andrea Dovizioso menganggap faktor penyebab lambatnya proses adaptasi Jorge Lorenzo karena gaya balap yang tak sesuai karakteristik motor. Dovi pun menyarankan agar Ducati memberi motor yang benar-benar berbeda untuk X-Fuera.

“Ini sebenarnya aneh, kita semua tahu betul apa yang terjadi dengan Lorenzo. Para pembalap Ducati lainnya sudah mengenal dengan benar tata letak lintasan meski menggunakan motor tanpa fairing. Namun Lorenzo adalah cerita berbeda,” katanya.

Lorenzo sampai saat ini masih tercecer di posisi tujuh klasemen sementara. Rider Spanyol tersebut belum mampu memenangi balapan musim ini.

Situasi yang berbanding terbalik dengan capaian Dovizioso. Dovi kini sudah empat kali memenangkan balapan bahkan menjadi pemuncak klasemen.

“Dia memiliki gaya balap yang berbeda dan membutuhkan sesuatu yang berbeda dari motornya, ketimbang semua pembalap Ducati lainnya,” tukasnya.

Lorenzo Butuh Desmosedici Berbeda

Lorenzo merasakan sesuatu yang positif menjelang balapan di Misano. Ia juga punya target besar karena catatan bagus selama tampil di GP San Marino.

Modal Lorenzo adalah empat kemenangan yang dicatatkannya. Pertama di kelas 250cc, sementara tiga kemenangan di MotoGP 2011, 2012 dan 2013.

“Target di Misano adalah untuk mengonfirmasi kecenderungan menanjak yang sudah kami perlihatkan dalam beberapa balapan terakhir, saat kami menambah lebih banyak pengalaman dan rasa percaya diri di atas motor. Tes yang sudah kami lakukan di sini sangatlah positif dan akan berguna untuk punya fondasi awal yang bagus sedari hari pertama,” tutur Lorenzo.