Sophia Latjuba Main Film Horor ‘Mereka yang Tak Terlihat’

Sepertinya tahun ini jadi kebangkitan film horor di box office Indonesia. Setelah Danur: I Can See Ghost mencetak rekor sebagai film horor terlaris, film-film dengan genre yang sama mulai bermunculan.

Danur mendapatkan sekitar 2,7 penonton dan menduduki peringkat kedua film indonesia terlaris tahun ini di bawah Warkop DKI Reborn: Part 2. Di bawahnya ada film Jailangkung dan Pengabdi Setan yang juga mampu menyedot lebih dari 2 juta penonton.

Mungkin tren itulah yang coba dimanfaatkan Skylar Pictures. Mereka baru aja merilis film ‘Mereka yang Tak Terlihat’ ke bioskop. Penasaran dengan ceritanya?

Lidya (Sophia Latjuba) adalah seorang single parent dari dua orang putrinya yang bernama Saras (Estelle Linden) dan Laras (Bianca Astrid). Usia Saras dengan Laras terpaut 5 tahun. Sedari kecil Saras tampak berbeda dibandingkan anak lain pada umumnya, Saras adalah seorang anak indigo, Saras bisa melihat makhluk-makhluk tak kasat mata seperti hantu ataupun jin dan sejenisnya. Namun hal ini dianggap tidak masuk akal oleh Lidya, sehingga membuat hubungan Lidya dengan Saras memiliki jarak.

mereka yang tak terlihat

Pada saat Saras berusia 17 tahun, Saras dua kali kesurupan dan hal ini membuat Lidya sangat khawatir dan meminta kakaknya yang bernama Tante Rima (Rowiena Umboh) yang seorang psikolog untuk menangani Saras. Namun, Tante Rima bersikeras ke Lidya bahwa hanya Lidya lah yang harus menangani Saras sebagai ibu kandungnya.

Suatu hari Saras didatangi oleh arwah penasaran bernama Dinda (Frisly Balqis), seorang siswi SMA yang meninggal karena dibully di sekolah oleh siswi lain bernama Citra (Aliyah Faizah). Semua orang menyangka kematian Dinda karena Dinda bunuh diri.

Namun arwah Dinda ingin meluruskan persepsi itu, dan meminta Saras untuk menemui ibunya yang bernama Dayu (Dayu Wijanto). Dinda ingin agar Dayu ikhlas merelakan kepergiannya dan memaafkan Citra yang selama ini dianggap Dayu sebagai penyebab kematian anaknya.

Hubungan Saras dengan Lidya semakin kritis ketika keduanya mengutarakan kekecewaan terhadap sikap masing-masing dan saling menyalahkan. Lidya menganggap Saras tidak pernah mau mendengarkan perkataanya sebagai orang tua, sementara Saras menganggap Lidya tidak pernah mau percaya dengan kemampuannya.

Keduanya bersikeras dengan pendapat mereka, hingga sebuah peristiwa besar terjadi dalam kehidupan keluarga mereka, hanya sebuah kata maaf yang dapat menyatukan keduanya.