Ditemukan Nya Kepala Naga Di Gunung Lalakon

Ditemukan Nya Kepala Naga Di Gunung LalakonDitemukan Nya Kepala Naga Di Gunung Lalakon – Kurator Museum Sri Baduga Romulo belum bisa memastikan keaslian atau fungsi dari artefak menyerupai kepala naga yang ditemukan di kawasan Gunung Lalakon, Desa Jelegong, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung. Menurutnya bentuk kepala naga kerap ditemukan dalam mitologi Hindu dan Budha. Sementara belalai mengarah ke atas yang menjadi bagian artefak identik dengan bagian tubuh Ganesha yang merupakan dewa pengetahuan. Romulo mengaku baru kali ini menemukan artefak semacam itu. Sekilas Romulo menilai ada kemiripan dengan artefak yang berada di Goa Sunyaragi, Kota Cirebon. Namun lagi-lagi hal itu belum bisa dipastikan. “Mungkin benda ini tidak sebagai media pemujaan. Tapi diduga sebagai tanda untuk menuju lokasi atau tempat sakral.

Misal pemakaman,” ujar Romulo kepada detikcom di Museum Sri Baduga, Kota Bandung, Senin (18/9/2017). Dugaan tersebut dapat diindikasikan lantaran di Gunung Lalakon konon terdapat banyak situs sejarah seperti makam-makam tua. Bahkan artefak tersebut juga pertama kali ditemukan warga di pemakaman yang sudah tidak lagi digunakan. Dari segi bentuk, kata Romulo, diduga artefak tersebut tidak berdiri sendiri. Sebab di bagian belakang terlihat jika artefak tersebut berdiri dengan suatu penyangga. Namun diduga patah hingga hanya menyisakan kepala naga tersebut. Soal umur artefak Romulo mengaku tidak bisa mengetahuinya secara pasti. Sebab hal itu harus diteliti oleh instansi terkait yakni Balai Arkeologi Jabar.

“Nanti dari situ bisa ketahuan umurnya berapa, bahannya apa, asli atau tidaknya juga,” katanya. Saat ini pihak museum sudah berkoordinasi dengan Balai Arkeologi Jabar untuk melakukan penelitian. Belum dapat dipastikan kapan penelitian tersebut bisa dimulai karena melibatkan dua instansi berbeda yang memerlukan prosedur. Untuk sementara artefak berukuran panjang 110 cm tersebut disimpan di sebuah ruangan khusus yang berada di dalam kantor Museum Sri Baduga. “Ruangan ini khusus karena suhunya bisa diatur. Dan barang kita beri kain supaya tidak merubah bentuk,” ujar Romulo sambil menunjukkan tempat penyimpanan artefak.

Jasad Pasutri Di Temukan Di Jawa Barat

Jasad Pasutri Di Temukan Di Jawa Barat – Saat ini, polisi masih menyelidiki kasus dengan dugaan perampokan yang menyebabkan Zakaria Husni dan istrinya Zakiya Masrur meninggal dunia, warga Jalan Pengairan Nomor 21, RT11/RW6 Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Jasad pasutri tersebut ditemukan terbungkus selimut dan mengambang di Sungai Klawing, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, Senin pagi (11/9/2017). Berdasarkan hasil dari pemeriksaan sementara, modus pelaku perampokan ini telah diduga berpura-pura menjadi tamu di rumah korban di kawasan Tanah Abang. “Pelaku berpura pura menjadi tamu, kemudian pelaku pun langsung saja melakukan penganiyaan kepada korban untuk memudahkan menguasai barang milik korban,” Tutur Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Raden Prabowo Argo Yuwono, Selasa (12/9/2017).

Secara terpisah, Kapolsek Tanah Abang Komisaris Polisi Lukman Cahyono mengatakan, sejumlah saksi mengaku mendengar ada nya suara keributan dari dalam rumah korban. “Informasi dari penghuni kos-kosan, di situ memang malamnya ada keributan. Ada kegaduhan itu sekitar jam 7 malam,” Ucap Lukman. Lukman juga menuturkan, saat ada kegaduhan di rumah korban, salah satu anak dari pasutri ini masih bertahan di lantai atas rumah. “Anak perempuannya yang saat itu di atas tidak berani turun,” ungkapnya. Berdasarkan hasil dari olah TKP di rumah korban, polisi menemukan ada beberapa barang berharga korban yang hilang seperti satu unit mobol Toyota Altis. Polisi juga menduga korban dianiaya para pelaku saat terjadinya insiden perampokan tersebut.

“Saat kami lakukan olah TKP, juga ada barang-barang yang hilang dan ada tanda-tanda kekerasan, ada bercak darah di dalam rumahnya ya kita masih dalami,” ungkapnya. Namun, Lukman belum bisa menyimpulkan motif pelaku sengaja membuang jasad pasutri itu ke luar Jakarta. Sejauh ini, kata dia, pihaknya masih berkoordinasi dengan Polres Purbalingga terkait penemuan mayat dan insiden perampokan yang terjadi di kediaman korban. “Kami telusuri dulu bagaimana pastinya. TKP awal kemungkinan di wilayah sini, di Benhil itu,” katanya.

Terancam Nya Pidana 10 Tahun Rumah Sakit Mitra Kalideres

Terancam Nya Pidana 10 Tahun Rumah Sakit Mitra Kalideres – Saat ini, kasus yang menimpa Rumah Sakit Mitra Keluarga Kalideres yang menyebapkan bayi empat bulan Tiara Deborah Simanjorang meninggal dunia menyeret Rumah Sakit Mitra Keluarga Kalideres ke dalam jalur hukum. Penyelidikan pun langsung segera di tangai oleh Ditreskrimsus Polda Metro Jaya. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono menyatakan, hingga saat ini, polisi sedang mencari klarifikasi yang terkait kasus ini dan juga sudah beberapa pihak yang terlibat dalam kasus itu. Menurut beliua, semua saksi yang bersangkutan dengan kasus meninggalnya bayi empat bulan tersebut akan diperiksa. “Seperti rumah sakit, keluarga, seperti istri, dan suami. Semua yang bersangkutan dengan bayi bernama Tiara Deborah Simanjorang, pasti akan kita mintai keterangan,” kata dia di Mapolda Metro Jaya, Selasa (12/9). Sekarang ini, polisi akan melihat terlebih dahulu fakta-fakta hukumnya. Polisi juga membuat pasal yang sesuai dengan kejadian tersebut. Menurut Argo, dalam kasus ini, pihak RS Mitra Keluarga Kalideres terancam Pasal 190 UU Kesehatan.

“(Pasal itu) bersangkutan dengan yang membiarkan pasien yang harus ditangani padahal sakit berat,” kata Argo. Kondisi di rumah pasangan Rudiyanto Simanjorang dan Henny Silalahi, orang tua balita Tiara Debora Simanjorang di Jalan Jaung, Benda, Kota Tangerang, Ahad (10/9). Adapun pasal lainnya seperti 190 ayat 2 UU Kesehatan tersebut berbunyi, pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan yang melakukan praktik atau pekerjaan pada fasilitas pelayanan kesehatan yang dengan sengaja tidak memberikan pertolongan pertama terhadap pasien yang dalam keadaan gawat darurat yang mengakibatkan terjadinya kecacatan atau kematian, pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan dan/atau tenaga kesehatan tersebut dipidana dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun dan denda paling banyak Rp 1 miliar.

Argo menambahkan, kasus ini disebutkan sebagai model A. Pihak kepolisian sendiri melakukan pelaporan sehingga tidak diperlukan keluarga korban untuk melakukan pelaporan. Selanjutnya laporan kasus tersebut ditindaklanjuti dengan penyelidikan. Sebelumnya, Deborah dibawa kedua orang tuanya, Henny Silalahi dan Rudianto Simanjorang ke Rumah Sakit Mitra Keluarga Kalideres, Jakarta Barat oada Ahad (3/9) dini hari. Namun, karena keterbatasan biaya, orang tua Deborah tidak bisa membayar uang muka perawatan Deborah. Upaya mengajukan BPJS orang tua pun tidak berhasil lantaran RS Mitra Keluarga tersebut tidak bekerja sama dengan BPJS. Pihak RS Kalideres mengklaim telah memberikan perawatan semaksimal mungkin sembari mencarikan RS yang bekerja sama dengan BPJS. Namun, Deborah terlebih dahulu meninggal pada Ahad (3/9) pukul 10.00 WIB.

Meksiko Di Landa Gempa Berskala 8,4 Magnitudo

Titik Gempa Melanda Meksiko

Meksiko Di Landa Gempa Berskala 8,4 Magnitudo – Gempa bumi dengan skala yang berkekuatan 8,4 magnitudo yang menghantam daratan wilayah Meksiko selatan pada hari Kamis (8/9/2017) WIB, gempa bumi ini diperkirakan menjadi gempa terbesar dalam sejarah di kota itu. Jika data yang dirilis Dinas Seismologi Meksiko yang menyatakan kekuatan gempa mencapai 8,4 magnitudo tercatat, maka catatan gempa di tahun 1985 silam terpatahkan. Sejarah mencatat, guncangan gempa bumi terdasyat terakhir di Meksiko terjadi pada tahun 1985. Seperti yang diberitakan AFP, ketika itu gempa berkekuatan 8,1 magnitudo merenggut sampai 10.000 korban jiwa. Kerusakan bangunan tersebut terjadi di Negara bagian Chiapas, Meksiko, akibat dari gempa bumi yang melanda pada hari Kamis tengah malam waktu setempat (7/9/2017). Sejak saat ini, otoritas Meksiko menerapkan standar bangunan yang lebih kuat, sekaligus mengembangkan sistem untuk peringatan gempa menggunakan sensor yang sudah ditempatkan di pantai.

Wilayah Meksiko berada di atas lima lempeng tektonik, yang menjadikannya sebagai salah satu negara paling rentan gempa di dunia. Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menyebut kekuatan gempa hari ini mencapai 8,1 magnitudo. Guncangan gempa tersebut berpusat di lepas pantai di Pasifik, sekitar 120 kilometer barat daya kota Tres Picos di negara bagian Chiapas. Gempa tersebut mengguncang wilayah yang amat besar, yang di mana getarannya terasa begitu jauh hingga 1.000 kilometer dari pusat gempa yang mengarah ke utara Meksiko.

Warga sekitar yang merasakan guncangan gempa tersebut di tengah mereka sedang melakukan istirahat malam, dilaporkan berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri. “Berdasarkan dari data yang ada, gelombang tsunami yang meluas diperkirakan terjadi di beberapa pantai,” demikian diumumkan Pusat Peringatan Tsunami Pasifik. “Gelombang tsunami yang mencapai lebih dari tiga meter di atas permukaan air laut dimungkinkan terjadi di sepanjang pantai Meksiko.” Peringatan tsunami ini juga berlaku untuk wilayah Pantai Meksiko, yang merambat hingga ke arah Amerika Tengah di Guatemala, El Salvador, Kosta Rika, Nikaragua, Panama, dan Honduras, dan terus menyusur ke selatan Ekuador. Gempa tersebut dirasakan di sebagian besar Guatemala, yang memang berbatasan dengan Chiapas.

Penolakan Pemindahan Napi Ke Lapas Dewasa

Penolakan Pemindahan Napi Ke Lapas Dewasa – Sekitar 200-an orang narapidana yang mendekam di Blok B LP (Lembaga Pemasyarakatan) Pemuda Kelas 2A mengamuk pada Jumat, 8 September 2017, pukul 21.00 WIB. Narapidana berteriak-teriak memanggil seorang petugas supaya seorang napi tidak dipindahkan ke Lapas kelas I Dewasa Tangerang. Mereka melempari Lapas menggunakan batu, sehingga pintu kaca penjagaan pecah. Para napi juga menggoyang-goyang pagar besi. Kejadian ini terjadi disela-sela waktu pemindahan puluhan napi dari Lapas Pemuda ke Lapas Dewasa kelas 1A di jalan Veteran Kota Tangerang. Kepala Kepolisian Sektor Benteng Komisaris Ewo Samono menuturkan kejadian itu bermula pada jam 20.00 WIB. Rencananya ada 22 orang narapidana yang hendak dipindahkan secara bertahap.

Polisi Sedang Berjaga

“Ketika tujuh orang narapidana dipindahkan, sekitar 200 Napi di Blok B menggoyang-goyangkan pintu sel Blok B. Mereka memohon kepada petugas LP agar napi Ahmad Satiri alias Gajul tidak dipindahkan,” kata Ewo. Gajul adalah napi narkoba. Sebelumnya, Gajul ditahan di Kepolisian Resot Tangerang Selatan. Karena situasi ricuh, ujar Ewo, Kepala Lapas Pemuda Kelas 2 Muji pun mengembalikan Gajul yang sudah telanjur terlanjur diangkut ke blok.

“Ketika situasi sudah mulai kondusif, pintu besi yang dirusak saat itu juga sudah dilaksanakan, napi penghuni Blok B kembali masuk Kamar,” ujar Ewo. Sedangkan pengiriman 12 napi ke Lapas Dewasa kelas 1, ujar Ewo, tetap dilanjutkan karena dengan pertimbangan bahwa 12 orang napi tersebut tidak bermasalah dan bukan merupakan tokoh napi (tamping). Meski situasi kondusif, kata Ewo, polisi tetap bersiaga di Lapas Pemuda hingga Sabtu pagi, 9 September 2017. Sebanyak 57 orang personil dari Polsek Benteng dan lima anggota TNI dari Komando Rayon Militer siaga di tempat.